Tuesday, 30 March 2021

Hymne Bani Tamim

Bani Tamim kaulah jiwaku

Mengarungi ruang nafasku

Membimbingku akhlak dan ilmu

Demi cerah masa depanku


Bani Tamim kau pelitaku

Kau penerang jiwa ragaku

Menaungi siang malamku

Demi terang jalan hidupku


Bangkitlah pondokku

Kepakkan sayapmu

Tuhan kan bersamamu


Bani Tamim kaulah jiwaku

Mengarungi ruang nafasku

Membimbingku akhlak dan ilmu

Demi cerah masa depanku


Bani Tamim kau pelitaku

Kau penerang jiwa ragaku

Menaungi siang malamku

Demi terang jalan hidupku


Bangkitlah pondokku

Kepakkan sayapmu

Tuhan kan bersamamu


Bani Tamim...

Bani Tamim...

Jayalah slalu...

Sunday, 15 March 2020

Tentang Mereka Yang Usai

Disini, aku mencoba menerjemahkan isi hati Assya yang tidak menangis, namun tak mampu berkata apapun. Ku lihat betapa hebatnya dia karna memiliki ketulusan seluas itu. Sungguh akupun tak mampu. Ini caraku menolongnya. Aku bersyukur apabila Rian membacanya.

Dari Assya, yan... Anggaplah ini sebuah surat yang tertahan di kantor pos, yang hanya bisa kau baca apabila kau sendiri yang mendatangi kantor pos lalu kau cari sendiri dimana surat itu tergeletak. Oke itu terlalu jadul. Anggaplah ini sebuah pesan WhatsApp yg ku kirim pada grup yang hanya berisi kontak diriku sendiri. Kau bisa membacanya apabila kau menemuiku untuk meminta smartphone ku, lalu kau buka dan baca sendiri di WhatsApp ku.


Tentang siapapun nanti yang akan mendampingi kamu, jika orang lain, aku harap dia adalah org yg tidak bangga telah merebut tahtaku, karna aku tidak senang jika kau bersanding dengan orang yg sombong. Aku harap dia org yg sabar dengan kamu yang cepat marah dan cepat kesal. Aku harap dia org yg sangat pengertian, mengerti mood kamu, mengerti masalah kamu, mengerti mau nya kamu. Aku harap dia org yg hatinya sanggup bertahan, tahan dengan kamu yg sering memperlakukan org lain lebih dari memperlakukan pasangannya. Aku harap dia org yg rela menyerahkan jiwa, raga, bahkan hartanya untuk mengabdi sama kamu, lebih dari yang telah aku korbankan. Namun jika itu adalah aku, aku hanya berharap Allah menyatukan kita kembali dengan caranya yang sangat indah,  dengan keadaan kamu yang semakin soleh yang dapat membimbing aku dan anak anak kita menuju syurga Allah, dan dengan aku yang sholehah agar dapat mendidik anak anak kita sesuai dengan yg islam anjurkan. Dengan keadaan kamu yg sudah sadar akan tanggung jawab terhadap segala kewajiban kamu sebagai suami dan sebagai ayah, begitu pun aku dengan tanggung jawab ku sebagai seorang istri dan sebagai ibu. Dengan keadaan kamu yang semakin tegas dan bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah, dengan keadaan kamu yang tetap lembut  dan penuh kasih sayang dalam membimbing aku dan menasihati aku ketika aku berbuat salah. Aku akan sangat mensyukuri itu semua dengan sangat bersyukur. Dengan kamu ataupun tidak, biarkan aku tetap mendoakan kamu, dan bapak. Yang harus kamu tau, setelah aku menemukan mu, aku berhenti mencari yang lain.


Tentang kehidupan kita setelah ini, aku akan tetap panggil kamu abang, seperti dulu sebelum kita memulai hubungan ini. Aku ingin kita tetap menjadi teman baik, tetap bertegur sapa, jangan ragu buat manggil apalagi bicara, intinya aku ingin semua berjalan dengan baik baik saja. Jika kau takut terhadap nona mu, yakinkan kepada nona mu bahwa "Maaf, orang tuaku tidak mengajarkanku untuk menginginkan, mengincar, menggoda, lalu merampas apa yang sudah menjadi milik orang lain. Kata mereka,  itu sesuatu yang hina. Jika kau tak ingin menjadi wanita hina, maka jangan lakukan!".


Seperti yang telah kau ajarkan  kepadaku, biasakan mengeluarkan  kata maaf dan terimakasih. Terimakasih atas semua yang telah kamu kasi ke aku, dari mulai cinta, nasihat, pelajaran, pendidikan, perhatian, kasih sayang, pengalaman, kenangan, ahh banyak bgt. 

Aku minta maaf yg sebesar besarnya, aku belum bisa jadi wanita yang kamu harapkan.


I will miss you, thank you.